What do you have in mind when you hear the word ‘home’? Kalo gue sih, bukan terbayang rumah. Gue terbayang sosok familiar yang udah kenal gue dan gue kenal luar-dalam. Literally and figuratively.
Sosok home bagi gue itu sahabat, sosok yang bisa sama-sama ketawa terbahak-bahak bareng gue karena sebuah joke yang menurut orang lain nggak lucu tapi menurut gue dan dia itu hilarious banget, yang gue paham betul jalan pikirannya (and vice versa), yang gue hafal betul komen-komen tololnya.
Sosok home bagi gue juga adalah partner, sosok yang bisa jadi tempat keluh kesah, yang memegang semua rahasia terdalam gue (and vice versa), yang membiarkan gue jadi diri gue sendiri tanpa ilfil (and vice versa), yang ‘one wouldn’t be complete without the other.’
Sosok home bagi gue adalah sosok yang gue familiar banget dengan aroma badannya, yang gue bisa peluk-peluk sesuka hati, yang gue bisa ajak pulang ke rumah untuk dikenalin ke ibu, ayah, dan keluarga besar, sosok yang gue bisa bilang, “Nyet, kangen.” tanpa takut awkward atau tak berbalas.
Itu semua, to me, adalah definisi someone to come home to. Seseorang yang, saat bersamanya, lo merasa ada di rumah. Nyaman, aman, damai, tenang, menyenangkan. A best friend, a partner, a lover.
Well you get my point.
Gue percaya, kalo setiap orang udah berhasil nemuin someone to come home to-nya, spesies manusia galau akan punah. Hestek #penggalauan akan musnah. Galau Nation habis sudah. Adele pun nggak akan laku lagi. Serius.
Untunglah, gue termasuk salah satu orang yang cukup diberkahi oleh Tuhan YME untuk merasakan seperti apa punya someone to come home to itu. All those things I explained, gue tau rasanya. It was indeed the best feeling in the world.
Tapi kemudian, kok lama-lama gue mencium adanya law of diminishing marginal utility dalam konsep someone to come home to ini. Stok inside joke yang tadinya banyak mulai berkurang, toleransi menipis, dalam kasus terburuk, saling membentak bisa tiba-tiba terjadi.
Sedih.
Lalu tiba-tiba gue teringat salah satu love quote favorit gue dari Anais Nin yang kurang lebih bunyinya: “Love never dies a natural death. It dies because we don’t know how to replenish its source. It dies of blindness and errors and betrayals. It dies of illness and wounds; it dies of weariness, of witherings, of tarnishings.”
DEG!
It dies of weariness, witherings…
Is it the solemn reason for what the economists called ‘diminishing marginal utility’?
Lalu gue teringat lagi sebuah (probably the most quoted) quote dari one of the most talked about drama-romance movie yang berjudul (500) Days of Summer, bunyinya “People change. Feelings change. It doesn’t mean that the love once shared wasn’t true and real. It simply just means that sometimes when people grow, they grow apart.”
I might sound cheesy by quoting this, but I begin to think that it’s true. Bahwa ‘someone to come home to’, *your* someone to come home to, won’t last forever.
Rasanya ‘rumah’ itu seperti di-blurred, dan digantikan oleh pushed, defeated, dan semacamnya. Rasanya nukleus dan nukleoplasma dari ego pribadi sudah dihapus bersih, tinggal membran luarnya, kok ‘rumah’-nya masih blur juga? Kok happiness gue diminished? Kok rasanya melompong?
“Unattended heart is the worst. It’s not full, it’s not empty; it’s just there. That kind of make you feel like you’re dead inside and everything is just stagnant.” -R. O’Connell
Someone to come home to, I’m calling out to you. I can hear you, can you hear me, too?
Oh well.
-Rara